Onriza Putra
21 Mar 2020 at 14:44


Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyatakan bahwa Covid-19 telah menyebabkan ketakutan publik dan ketidakpastian global. Dalam konferensi pers, orang nomor satu di PBB ini menghimbau masyarakat dunia untuk menggalang solidaritas global, membangun harapan dan dibutuhkan political will untuk menghadapi krisis bersama-sama. Menurutnya, respon yang dilakukan negara secara mandiri tidak akan mampu menangani krisis global yang kompleks ini. Dia menekankan pentingnya koordinasi dalam pengambilan setiap kebijakan. Guterres berencana untuk membahas wabah Covid-19 bersama pemimpin negara G20 dalam G20 leader's emergency summit untuk merespon tantangan global yang disebabkan Covid-19. Walapun Covid-19 telah menyebabkan ribuan korban dan merusak tatanan ekonomi, Guterres berharap bencana ini dapat ditangani dengan baik.

"I call on world leaders to come together and offer an urgent and coordinated response to this global crisis" ucapnya.

Covid-19 telah menyentuh hampir seluruh kehidupan masyarakat dunia. Walapun pemerintah menganjurkan social distancing dan isolasi mandiri untuk menghambat penyebaran virus ini, bukan berarti kita tidak peduli dengan orang lain. Justru karena Covid-19, kita harus meningkatkan solidaritas, tidak hanya untuk keluarga, teman kerja atau orang-orang di keseharian kita, tetapi juga untuk masyarakat dunia dan menembus batas negara. Saat ini kita membutuhkan tanggung jawab, kerjasama dan saling melindungi menghadapi krisis.

Menurut Noel Andersen, UCC Grassroots Coordinator for Immigrants Right of the Education for Faithful Action Plus Team, nasionalisme, nativisme dan xenophobia dapat memperparah krisis ini. Dia mencontohkan bagaimana respon awal Donal Trump menyikapi penyebaran virus ini. Noel menyatakan pelarangan dan penutupan perbatasan tidak akan mampu menyetop penyebaran Covid-19. WHO merekomendasikan larangan bepergian karena mereka dapat memperlambat penyebaran untuk sementara. Noel menawarkan solidaritas global untuk bersama-sama mengembangkan vaksin, peralatan kit dan menunda pertemuan-pertemuan yang melibatkan banyak orang.

Masyarakat Turin, Italia melakukan aksi solidaritas dengan menyanyikan lagu-lagu patriotik di balkon mereka. Dari Turin hingga Sisilia, mereka bersama-sama mengkampanyekan dan saling mendukung melalui media sosial. Aksi solidaritas di Spanyol dimulai oleh PM Pedro Sanchez dengan memuji petugas kesehatan. Aksi ini diikuti masyarakat Spanyol dengan aksi membuka jendela dan bertepuk tangan serta mengumandangkan Viva Los Medicos (long live doctors). Afrika Selatan, melalui Finalis American Got Talent, Ndlovu Youth Choir menciptakan dan menyebarkan semangat global melalui lagu " Dont Panic: We've got this". Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengomentari video ini dengan kalimat " here is another beautiful way to share public health advice on #Covid19".

Beragam cara yang dilakukan masyarakat dunia untuk berbagi semangat dalam masa-masa kritis ini seperti menjadi relawan, melalukan konser gratis untuk masyarakat yang diisolasi, menyediakan alat pelindung diri gratis, membuka toko/supermarket untuk kebutuhan stok makanan. Di Indonesia, beredar foto-foto petugas medis yang berjibaku di rumah-rumah sakit sambil mengkampanyekan "kami disini untuk kalian, kalian dirumah untuk Indonesia" dan beragam kalimat optimisme lainnya.

Jiwa gotong royong dan solidaritas kita diuji dengan krisis ini. Saling menyemangati dan bahu-bahu sebagai bagian dari masyarakat dunia perlu dikedepankan, ketimbang menonjolkan nasionalisme sempit dan rasialisme. Solidaritas global adalah kekuatan sekaligus harapan kita melawan Covid-19.

0