A Sofyan N
03 Apr 2022 at 08:59


Akhir tahun 2021 dan 2022 merupakan momen berharga bagi Indonesia yang diberi kepercayaan untuk menjadi tuan rumah atau Presidensi G20. Sejumlah keputusan presiden pun diterbitkan guna mengatur penyelenggaraan Presidensi G20 Indonesia.

Indonesia mengusung tema besar yaitu, “Recover Together, Recover Stronger” yang dimaksudkan sebagai langkah terdepan untuk pemulihan ekonomi berkelanjutan pasca pandemi bagi Indonesia maupun dunia internasional. Setelah mengetahui bagaimana Presidensi G20 tahun 2022, sepertinya kita wajib tahu mengenai G20 itu sendiri.

G20 atau Group of Twenty

G20 merupakan forum kerjasama multirateral yang terdiri atas 19 negara utama termasuk Indonesia dan Uni Eropa (EU). Dikutip dari bi.go.id saat ini negara-negara yang tergabung dalam G20, yaitu Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki dan Uni Eropa.

Forum G20 merupakan forum strategis yang mempresentasikan lebih dari 60% populasi di Bumi, 75% perdagangan global dan 80% PDB dunia. Dijelaskan pula untuk menjadi bagian dari G20 tidak harus memiliki kriteria tertentu. Namun yang paling penting ialah negara anggota perlu memberikan dampak dan kontribusi khusus pada perekonomian dunia.

Sejarah Pembentukan G20

G20 dibentuk dengan satu tujuan, yaitu mendiskusikan kebijakan-kebijakan sebagai bentuk usaha mewujdukan stabilitas perekonomian dan keuangan dunia. Pembentukan G20 dilakukan pada tahun 1999 dan pertemuan pertama ini merupakan upaya untuk menemukan solusi krisis ekonomi global yang nemimpa dunia pada tahun 1997-1999 silam.

Pembentukan forum G20 melibatkan beberapa negara dengan pendapatan menengah dan memiliki pengaruh perekonomian bagi sistematik keuangan dunia, termasuk Indonesia. Sampai saat ini G20 terus memegang peran penting bagi perkembangan ekonomi dunia.

Sebelum adanya G20, dunia telah mengenal G7 yang terdiri atas negara Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada dan Perancis. Forum ini merupakan gabungan dari negara-negara maju dan berpengaruh pada perkonomian terbesar di dunia. Oleh saran dari menteri keuangan G7 dan Gubernur Bank Sentral negara G20 mulailah diadakannya pertemuan untuk membahas krisis keuangan global.

Pertemuan tingkat Menteri keuangan pun secara rutin dilaksanakan pada musim gugur tiap tahun. Lalu, pada 14-15 November 2008, Presiden AS saat itu mengundang pemimpin negara-negara G20 dalam KTT pertama.

Pada kesempatan itu, para pemimpin negara melakukan sejumlah korrdinasi respon global terkait dampak dari krisis keuangan yang terjadi di AS masa itu dan telah menyepakati untuk melakukan pertemuan selanjutnya.

Dalam mempersiapkan kegiatan rutin atau KTT tahunan, para Menteri Keuangan dan Gubernur Sentral dari negara-negara G20 selalu melakukan pertemuan. Tidak ada sekretariat permanen dari keberadaan G20, dalam sistem kerjanya dan proses pelaksanaan G20 selalu menentukan tuan rumah (Presidensi) yang ditetapkan berdasarkan sistem rotasi kawasan dan berganti setiap tahunnya.

Hasil Kinerja dari Group of Twenty

Setiap tahunnya G20 selalu melakukan suatu gebrakan khusus melalui negara-negara presidensi yang diberikan kepercayaan untuk bertanggung. Indonesia yang merupakan negara maritim dengan kekayaan adat, budaya dan ragam suku bangsanya. Konsep kehidupan inilah yang memprakarsai tema “Recovery Together, Recovery Stronger” pada pelaksaan G20 tahun ini oleh indonesia.

Tentu saja masyarakat dunia mengharapkan sesuatu hal yang dapat mengubah keadaan ekonomi dunia menjadi lebih baik dan lebih berkembang dari yang sekarang.

Kembali melansir dari bi.go.id, berikut beberapa peran nyata dari G20 :

  1. Penanganan Krisis Keuangan Global 2008

Salah satu kesusesan terbesar dari forum G20 ialah pemberian dukungan terhadap usaha dunia dalam mengatasi krisis keuangan global dan ekonomi internasional pada tahun 2008. G20 memberi wajah baru bagi tata kelola keuangan dunia dengan menginisiasi sejumlah paket stimulus fiskal dan moneter yang terkoordinasi dalam skala besar.

G20 juga mendorong peningkatan kapasitas peminjaman International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional, serta menjadi developmant bank utama. G20 telah terbukti membantu peningkatan lajur pertumbuhan ekonomi dunia dan mendorong berbagai reformasi penting di bidang keuangan.

2. Kebijakan Pajak

G20 telah memacu The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, untuk mendorong pertukaran informasi terkait pajak.

Pada tahun 2012, G20 telah menjadi cikal bakal keberadaan Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) yang merupakan program dari OECD, yang kemudian dimutakhirkan pada tahun 2015. Melalui BEPS, saat ini sejumlah negara dan wilayah yurisdiksi telah bekerjasama untuk mengakhiri penghindaran pajak.

3. Kontribusi dalam Penanganan Pandemi Covid-19

Inisiatif G20 dalam proses penangan pandemi meliputi penangguhan pembayaran utang luar negeri dari negra-negara berpenghasilan rendah, injeksi dana penanganan Covid-19 sebanyak lebih dari 5 triliun USD, penurunan atau penghapusan biaya bea dan pajak barang impor, perngurangan bea untuk pengadaan vaksin, handsanitizer, alat medis dan obat-obatan.

4. Penangan Isu Lainnya

Terakhir, tidak hanya isu-isu yang berkaitan pada ekonomi dan keuangan global saja. G20 juga ikut berperan dalam bebrabagi isu internasional termasuk perdagangan, iklim dan pembangunan. Pada tahun 2016, G20 telah berhasil menerapkan prinsip-prinsip kolektif terkait investasi internasional. G20 juga turut mendukung gerakan politisi yang kemudian membawanya hingga ke penyelenggaraan Paris Agreement on Climate Change pada tahun 2015 dan berperan dalam The 2030 Agenda for Sustainable Development.

Sebagai anggota dari G20 dan merupakan Presidensi G20 tahun 2022, diharap Indonesia mampu menyiapkan kebijakan ekonomi yang tepat dan terbaik bagi perkembangan ekonomi global yang akan diterapkan negara lain terutama negara maju.


Referensi : Berbagai Sumber

0