Abdul Raufian
01 May 2020 at 21:35


Covid-19 sudah masuk ke Idonesia dibulan maret 2020, dan Covid-19 masih menghiasi sampai bulan Ramdan ini. Mudik a.k.a Pulang Kampung sudah menjadi budaya Ramadan di Indonesia, dimana masyarakat yang tengah merantau di kota-kota besar seperti Jakarta akan pulang menuju kampung halamannya untuk bertemu sanak saudara dan menikmati hidangan lebaran bersama.

Tapi, tahun ini merupakan tahun yang berbeda, di mana kita tidak diperbolehkan banyak-banyak beraktivitas di luar ruangan, semua tetang pembatasan diri guna untuk memutus rantai penularan Covid-19. Banyak anjuran yang melarang masyarakat untuk tidak melakukan mudik di tahun ini, namun tetap saja ada masyarakat yang membandel.

Berita, menayangkan masih ada pemudik yang nekat mudik dengan berbagai cara, seperti main petak umpet di mobil Pickup dengan ditutup terpal dan lucunya lagi mereka ngumpet bareng kerupuk, Oh My God! Hal itu ditemukan di Pospam Gerem Bawah, Cilegon, Banten. Seakan-akan Covid-19 menjadi ajangan mainan, keegoisan masing-masing individu menjadi momok terbesar bagi masyarakat indonesia. Iya, mungkin kami paham penderitaan mereka ketika masih bertahan di kota perantauannya akan menjadi hal yang percuma, penghasilan mereka menipis, makan sulit dan kondisi semakin menghimpit.

Namun dibalik itu semua harus ada yang diprioritaskan, yaitu kampung halaman yang disinggahinya nanti, aturan seperti pembatasan masa yang digaungkan oleh banyak pihak akan percuma saja ketika seluruh masyarakat Indonesia mudik, data pemudik Indonesia pada tahun 2019 menurut data yang dikutip dari Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Trasportasi Indonesia (Siasti) Kementrian Perhubungan (Kemenhub) jumlah pemudik pada H-7 hingga H-1 Lebaran mencapai 7,2 Juta pemudik.

Bayangkan jika sekarang kita memaksakan mudik disaat adanya Covid-19, apakah tidak mungkin dari jumlah pemudik dengan jumlah 7,2 Juta itu paling minimal 5%nya membawa Covid-19 yang tidak disadari, terutama Orang Tanpa Gejala (OTG) dan mereka ada dikerumunan para pemudik lainnya, lalu setiap pemudik bersetuhan dengan 5% tersebut apa yang akan terjadi? Ya, penularan masal.

Bahayanya lagi jika di kampung halamannya yang pemudik singgahi kekurangan fasilitas kesehatan, seperti tenaga medis, alat medis, tempat singgah pasien dan lain sebagainnya, seberapa besar kasus Covid-19 akan dicetak saat mudik dilakukan? Akan ada berapa lagi korban yang berjatuhan? Apakah masih ingin mudik jika hal itu terjadi? Atau pemudik punya jurus genjutsu (saah satu jurus ninja yang terkenal) yang mampu menghilangkan Covid-19covid-19 dengan cepat.

Bukankah banyak yang bisa menjadi alternatif lain untuk melepas kangen terhadap kampung halaman, karena teknologi hari ini sudah sangat berkembang pesat, dahulu kita hanya bisa menelfon saja dan mendengarkan suaranya doang, tapi sekarang aplikasi di gawai kita masing-masing sudah semakin canggih, sseperti aplikasi layanan Video Call, di mana kita dapat melihat orang yang kita ajak ngobrol, lalu jika kita akan memberikan oleh-oleh toh masih ada jasa pengiriman untuk mengirimkan oleh-oleh tersebut.

Mari ikuti anjuran pemerintah untuk memutus rantai penularan dengan tidak mudik ditahun ini, karena akan percuma jika kita tetap memaksakan mudik dan tidak mengikuti anjuran pemerintah. Semua ini bukan hanya untuk pemerintah saja, tapi untuk kita semuannya, agar tidak ada lagi Covid-19 diantara kita

0