Bahraeni
30 Jul 2022 at 17:07


Sebuah peristiwa yang membuat saya terpukul, seorang jurnalis senior asal Palestina, Shireen Abu Akleh menghembuskan nafas terakhir karena ditembak mati oleh tentara Israel. Shireen merupakan jurnalis yang selama ini selalu membela hak-hak warga Palestina, ia selalu menjadi suar bagi warga Palestina.

Usai mengeksekusi Shireen, pemerintrah Israel berusaha sekeras mungkin untuk memanipulasi data informasi dan fakta atas meninggalnya shireen. Mereka justru menuduh militan Palestina lah yang melakukan tindakan tersebut dan disaat hari pemakaman Shireen polisi-polisi Israel menyerang iringan jenazah, menyerang peti mati Shireen.

Asal Mula Konflik Israel-Palestina

Seperti yang kita ketahui bangsa Yahudi itu bangsa Diaspora, dahulu mereka terpencar diberbagai penjuru dunia terutama dibelahan Eropa. Pada abad pertengahan bangsa Yahudi adalah bangsa yang tertindas dan dibenci oleh bangsa Eropa. Pada abad ke-12 mereka diburu oleh Katolik Roma dan pada iabad ke-14 sampai 16 mereka diusir oleh pemerintah spanyol.

Hal tersebut berlangsung lama hingga ratusan tahun hingga akhirnya seorang Yahudi bernama Theodore Heirzel yang memiliki gagasan untuk mendirikan negara Yahudi itu sendiri, bentuk kepeduliannya yang membuat sampai hari ini bangsa lain harus tunduk dan tertindas pada negaranya sendiri. Hal inilah yang dinamakan gerakan zionis pertama didunia.

Gagasan Theodore tersebut ternyata disetujui oleh pemerintah Inggris melalui deklarasi Belfour dan ini berdampak sangat signifikan terhadap berdirinya negara Israel, loh kenapa? Karena dimasa itu wilayah Palestina berada dikekuasaannya pemerintahan Inggris, setelah Ottoman runtuh pemerintah Inggris yang mengambil alih wilayah Palestina.

Setelah deklarasi Belfour tersebut mulailah terjadi besar-besaran masyarakat Yahudi ke Palestina ditambah holoscaust yang dilakukan oleh Hitler makin menambah jumlah orang Yahudi yang pindah ke Palestina. Pada tahun 1948 bangsa Yahudi mendeklarasikan berdirinya sebuah negara yang bernama Israel . Pasca berdirinya negara Israel, konflik dan perang terus bermunculan di wilayah Palestina dan hal inilah yang berusaha ditunjukkan oleh seorang perempuan tangguh, berani dan mencintai palestina sepanjang hidupnya dialah shireen abu akleh.

Tokoh Pendukung Hak Warga Palestina Hingga ia Meninggal

Shireen Abu Akleh ini lahir pada tanggal januari 1971 dikota Yerussalem, orang tuanya berasal dari Amerika Serikat dan otomatis dia punya kewarganegaraan amerika serikat. Shireen bisa dikatakan bukan berasal dari keluarga yang sulit dia punya privilage dan dia bisa saja memilih menjadi warga megara Palestina, hal tersebut menempatkan Shireen sebagai seorang minoritas.

Lantas, kenapa Shireen memilih untuk menjadi warga negara palestina? Karena dia mempunyai keadilan dalam pikiran dan hatinya. Pada tahun 1997 dia memulai karirnya di Al-jJazira kantor terbesar di Jazirah Arab. Sejak saat itu Shireen sangat-sangat aktif dalam meliput berbagai peristiwa dan konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina.

Shireen tidak kenal takut dan terjun ke lapangan untuk memberitakannya ke seluruh dunia. Shireen juga ternyata wartawan yang sangat berani dan sangat profesional walaupun diganggu oleh para tentara Israel. Dia tetap berusaha untuk tetap menunaikan tugasnya sampe akhir. Yang menakjubkannya lagi Shireen ternyata reporter pertama yang mampu menerobos akses ke penjara Ashkelon yang berada didekat jalur gaza pada tahun 2005,.

Saat berada di Askhelon, ia menemui para tahanan Palestina yang dijatuhi hukuman penjara yang panjang oleh pengadilan Israel. Shireen mengatakan bahwa kunjungannya ke penjara adalah pengalaman yang sangat berbekas baginya, setelah dia menyaksikan langsung bagaimana kondisi warga-warga Palestina yang ditahan oleh pemerintah Israel dalam sebuah wawancara ditahun 2021.

Pada kesempatan tersebut, Shireen mengatakan bahwa “saya mungkin tidak bisa mengubah kenyataan tapi setidaknya saya bisa mengangkat suara mereka kepada dunia” sejak dulu dia menjadi incaran pemerintah Israel dan hal ini dikatakan oleh Shireen secara langsung melalui wawancaranya dengan organisasi rapat. Peristiwa mengerikan itupun terjadi.

Hari itu dia bertugas untuk meliput penyerangan militer Israel kepada kamp pengungsian di Jenin. Shireen ingin merekam penyerangan tersebut bersama dengan wartawan palestina lainnya yaitu Alisa Moudy tanpa peringatan tanpa pemberitahuan tentara Israel langsung menghujani mereka dengan peluru dan saat perjalanan ke RS Shireen pun meninggal dunia.

Sebenarnya saat meliput mereka menggunakan rompi khusus pers warnanya mencolok biru, dan tertulis pers, rompi mereka anti peluru dan sudah sangat safety didukung dengan helm kepala. Namun, anehnya shireen harus tertembak daerah kepala yang artinya itu bukanlah peluru nyasar, mungkinkah sebuah kesengajaan? Hmm

Hal menyedihkan setelah Shireen meninggal pemerintah Israel menuduh militer Palestina yang telah melakukan hal tersebut untuk memperkuat argumen mereka, Pemerintah Israel merilis video yang seolah-olah menunjukkan militer Palestina yang menembak mati Shireen. Berbagai macam cara mereka lakukan agar militer Palestina sebagai pelakunya.

Hal buruk yang dilakukan pemerintah Israel dihari pemakaman Shireen dimana hari itu adalah hari berkabung untuk seluruh warga Palestina dimana jenazah shireen diantar oleh ribuan orang palestina dimana orang-orang yang mengantarkan jenazah shireen orang yang beragama islam, kristen bahkan yahudi.

Mengetahui iringan jenazah begitu banyak pemeritah israel menugaskan pasukan polisi beramor lengkap dengan beton untuk berjaga-jaga didaerah pemakamannya shireen. Bahkan meninggal pun shireen masih menimbulkan teror bagi pemerintah israel. Video dokumenter diambil secara random bagaimana pasukan militer israel menyerang secara agresif iringan jenazah shireen sampai menjatuhkan peti matinya. Miris!!

Polarisasi gak cuman di Indonesia peta politik dunia ini secara sadar membuat garis-garis yang mengelompokkan masyarakat. Kita terpecah menjadi  golongan-golongan tertentu yang mana setiap golongan ini punya pihak yang sangat mereka dukung dan pihak yang sangat mereka benci.

Mudah bagi Shireen untuk hidup enak, akan tetapi dia lebih memilih untuk membela hal yang menurut dia harus dia bela. Dia lebih memilih untuk menyuarakan suara masyarakat Palestina yang selama ini tertindas padahal dia minoritas dan beragama Nasrani perempuan yang punya privilage tetapi dia melakukan hal tersebut. Kepeduliannya terhadap palestina melebihi orang-orang yang koar-koar di sosial media yang jelas tidak ada aksi nyatanya.

0