Bahraeni
08 Apr 2022 at 14:33


Pada akhir tahun 2021 lalu, sebuah peristiwa terjadi dan tentunya menimbulkan efek berkelanjutan pada panggung politik internasional. Beberapa waktu lalu, Rusia menempatkan 100 ribu pasukan penjaga di perbatasan Ukraina dan beberapa pakar menyebut, bahwa tindakan tersebut sangat berpotensi memicu Perang Dunia ke-3.

Wahh, benarkah? Pertanyaan selanjutnya ialah mengapa Rusia berani menempatkan 100 ribu pasukan di perbatasan Ukraina? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Rusia? Lebih baik kita tanyakan langsung saja pada Lord kita, Lord Vladimir Putin.

Semua ini bermula dari permintaan Vladimir Putin kepada NATO serta negara barat, khususnya Amerika Serikat. Permintaan tersebut berisi, Amerika Serikat dan NATO diminta untuk menghentikan seluruh aktivitas militer di daerah Eropa Timur. Kedua, Amerika Serikat dan NATO harus berhenti untuk merekrut anggota kemiliteran baru. Ketiga, meminta agar Amerika Serikat dan NATO berhenti ikut campur dalam segala hal urusan di Eropa Timur.

Namun, permintaan-permintaan ini tidak diindahkan oleh Amerika Serikat dan NATO, keduanya menolak dan merasa bukan urusan Rusia untuk mengatur mereka dapat berurusan dengan negara mana saja yang telah merdeka. Rusia tidak berhak ikut campur dan mengatur negara yang sudah merdeka, oleh karena ini Amerika Serikat dan NATO menolak.

Tindakan ini ternyata ditanggapi oleh Vladimir Putin, ia merasa permintaannya yang tidak dituruti oleh Amerika Serikat dan NATO perlu direspon balik. Putin melakukan invasi militer besar-besaran ke Ukraina, mengambil alih secara paksa daerah Ukraina dan memaksanya untuk kembali bergabung dengan Rusia. Demi menunjukkan keseriusannya itu, Putin tidak segan mengatakan bahwa Rusia telah siap untuk melakukan perang nuklir.

Menurut ibu Connie Kahakundidi Bakrie, Akademikus dan Pengamat Bidang Militer dan Pertahanan Keamanan. Ia mengatakan, sederhananya ini merupakan tindakan memberi pelajaran kepada Amerika Serikat dan NATO, bahwa dunia ini tidak boleh dikendalikan oleh satu orang atau satu negara atau satu kelompok saja. Ibu Connie menganggap, wajar saja Rusia melakukan tindakan tersebut.

Saat USSR jatuh dan pecah, kemudian Lithuania, Latvia jatuh diambil NATO atau masuk ke dalam NATO, yah menurut ibu Connie itu bukan sesuatu yang berarti karena letak jatuhnya sangatlah jauh. Namun, jauh sebelum Ukraina ditargetkan, pada tahun yang sama Ukraina dan Georgia diundang NATO untuk masuk dan bergabung dengan mereka. Saat itu juga Putin mengatakan pada mereka untuk tidak mengikuti keinginan NATO. Lalu bagaimana nasib Ukraina?

Sejarah Soviet dan Ukraina berasal dari Kiev pada abad ke-9. Singkat cerita, kekaisaran Rusia muncul sekitar abad itu. Nah, pada jaman modern ini, kekaisaran Rusia malah muncul menjadi negara yang namanya berubah menjadi Uni Soviet dan memiliki wilayah yang sangat luas usai Perang Dunia ke-2 berakhir.

Setelah Perang Dunia berakhir, negara barat merasa regu Uni Soviet sebagai ancaman yang baru. Lah kenapa gitu yaaa? Katanya, mereka takut Uni Soviet melakukan invasi besar-besaran ke Eropa, karena mereka jelas punya effort untuk melakukan hal tersebut.

Untuk mencegah hal tersebut, tahun 1949 akhirnya negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Kanada membentuk sebuah aliansi yang diberi nama NATO yang berisi 12 negara penggagas utamanya. Apasih kegunaannya NATO dibuat? Ya untuk menghentikan invasi Uni Soviet yang sewaktu-waktu kalau berniat untuk menguasai Eropa. Mulai saat itulah muncul istilah negara Blok Barat dan Blok Timur, yang selama berpuluh-puluh tahun hanyut dalam perang dingin.

Pada tahun 1990-an Uni Soviet tercatat menjadi negara baru yang namanya Rusia dan ia harus  kehilangan beberapa wilayah yang termasuk ke dalam daerah miskin dan salah satunya ialah Ukraina. Setelah kejadian penyerahan wilayah tersebut, banyak pihak yang merasa kehilangan setelah dilepaskannya Ukraina dari tanah Rusia.

Presiden Rusia saat itu, Gorbachev yang juga merasa kecewa terlebih lagi ibu kandungnya merupakan orang Ukraina. Selain Gorbachev, seorang inteligen muda nan berbakat yang memiliki karir sangat luar biasa dan cemerlang, Vladimir Putin. Entah mengapa, Putin sangat mengagumi dan merasakan romantika Ukraina, ia merasa bahwa orang Rusia dan Ukraina adalah sekutu dan serumpun yang seharusnya tinggal serta hidup dalam satu wilayah negara.

Hal tersebut terbukti kebenarannya, dalam catatannya selama ini Putin berhasil mengumpulkan kekuatan di Rusia. Putin memiliki karir yang bagus dalam pemerintahan Rusia dan merupakan seorang presiden yang dikagumi oleh masyarakatnya. Terlebih akan hasratnya menyatukan kembali Rusia dan Ukraina. Inilah yang menjadi alasan mengapa Putin berani melakukan invasi militer ke daerah Ukraina. Selain itu, kejadian ini bukanlah satu persitiwa yang terjadi begitu saja melainkan rangkaian peristiwa yang sudah terjadi puluhan tahun lalu.

Pada tahun 90-an, walaupun saat itu Ukraina telah menjadi negara yang merdeka akan tetapi mereka masih belum bisa lepas dari bayang0bayang Rusia ataupun kontrol negara Rusia.

Sehingga pada tahun 2004 terjadi revolusi yang dinamakan Revolusi Orange, dimana masyarakat Ukraina berusaha untuk membebaskan diri dari bayang0bayang Rusia dan mereka meminta Ukraina untuk menjadi negara yang benar-benar berdaulat alias tidak tergantung lagi pada Rusia.

Akhirnya Revolusi ini mengantarkan seorang presiden baru di Ukraina yang bernama Viktor Yushchenko. Viktor ini juga memiliki keinginan untuk dapat melepas Ukraina dari pengaruh Rusia dan lebih memihak kepada negara barat.

Tentu, keadaan ini membuat Rusia tidak nyaman dan mereka pun mengambil tindakan serta melancarkan strategi termasuk filtrasi ke politik dalam negeri Ukraina. Hal ini pun berbuah hasil, karena pada tahun 2010 pemimpin oposisi yang pro Rusia, Viktor Yanukovych menjadi presiden di Ukraina.

Ternyata itu tidak berlangsung lama yang mana revolusi kembali meletus pada tahun 2014, pada saat itu terjadi kekosongan kekuasaan dimana revolusi tersebut rusia memanfaatkan kekosongan jabatan ukraina setelah terjadi revolusi dengan mencaplok secara paksa daerah crimea.

Ternyata itu tidak berlangsung lama, revolusi kembali meletus pada tahun 2004 dan saat itu terjadi kekosongan kekuasaan yang menyebabkan Rusia berani mengambil langkah untuk memanfaatkan kekosongan jabatan di Ukraina. Usai revolusi, Rusia telah berhasil mengambil alih kembali daerah Crimea.

Sampai detik ini adalah masalah geopolitik yang serius dimana, presiden baru terpilih ukraina vladimir zelinski juga anti sama rusia yang menyatakan keberpihakan secara jelas kepada nato dan pihak barat dan mengatakan secara tegas bahwa ukraina tidak ingin berada dibwah bayang-bayang rusia lagi.

Sampai detik ini pun masalah geopolitik masih dialami oleh kedua belah pihak, Presiden baru terpilih Ukraina, Vladimir Zelinski yang juga anti Rusia menyatakan keberpihakkan secara jelas kepada NATO dan pihak Barat. Ia juga dengan tegas mengatakan, bahwa tidak ingin lagi berada di bawah bayang-bayang Rusia.

Zelinski juga mengatakan, bahwa Ukraina ingin bergabung dengan NATO dan ataupun menyambut keinginan itu dengan baik. NATO pun merasa keinginan tersebut sangat menguntungkan, dimana mereka dapat membangun pangkalan militer pada bagian Eropa Timur dan ini jelas akan mengancam Rusia.

So, yah pertanyaanya sekarang adalah apakah konflik ini akan menjadi cikal bakal Perang Dunia ke-3? Yah, kalau itu sih penulis tidak bisa memastikannya secara jelas. Kita hanya perlu menunggu pernyataan dari lord Vladimir Putin, jujur orang ini benar-benar tidak bisa ditebak. Ia memiliki kekuatan dan kekuasaan serta keseriusan dalam konflik ini.

Menurut penulis, semoga tidak akan adalagi konflik yang mungkin terjadi. Semoga saja konflik yang saat ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan, eh maksudnya secara baik-baik. Jangan sampai rakyat sipil terkena imbasnya dari konflik yang sedang berlangsung dan menyimpan trauma yang disebabkan oleh penguasa-penguasa yang haus akan kekuasaan. Sekian.

0