Fiskal Purbawan
19 May 2020 at 13:40Pandemi Covid-19 atau Virus Corona semakin hari
semakin meningkat termasuk di Indonesia. Per 18 Mei 2020, sebanyak 18.010 orang
dikonfirmasi positif Virus Corona. Diantara itu, 4.324 orang dinyatakan sembuh
dan 1.191 orang dinyatakan meninggal dunia. Usaha dalam mencegah penyebaran pun
terus digalakkan pemerintah, salah satunya adalah membatasi pergerakan manusia.
Namun sayangnya, pandemi kali ini berbarengan
dengan hari besar bagi umat islam yakni Idul Fitri. Yang mana, salah satu
budaya telah mengakar kuat adalah mudik atau pulang kampung, atau apapun namanya
itu. Mudik artinya ada pergerakan sekumpulan manusia dari kota ke desa, atau
sebaliknya. Pokoknya ada pergerakan. Pergerakan berarti penyebaran Virus Corona
akan semakin luas.
Tentu saja, sebagai umat islam yang baik, merawat
silaturahmi itu tetap menjadi hal penting. Maka dari itu, Presiden Joko Widodo dalam
video yang ia rilis di media sosialnya kemudian menganjurkan agar kita Mudik
Digital. Ya, meskipun kita mungkin telah melakukannya mungkin setiap hari.
Entah dengan Whatsapp, Zoom, atau aplikasi sejenis.
Mudik Digital tentu tidak sesempurna ketika kita
bersilaturahmi langsung. Namun, saya coba ajak kita semua melihat beberapa sisi
positif dari ajakan ini :
Lebih Murah
Terlepas dari tidak meratanya kualitas internet
negara kita, jelas mudik digital bila dihitung jauh lebih murah dari mudik
biasa. Kita tidak perlu repot sewa mobil atau mengeluarkan uang untuk beli
bensin. Selain itu, kita juga tidak perlu menyiapkan terlalu banyak jajanan
lebaran, yang penting cukup untuk dimakan sendiri selama dua minggu. Walaupun
saya yakin tagihan maupu penggunaan kuota
kita nanti akan membengkak beberapa kali lipat.
Lebih
Fleksibel
Setelah
melakukan Video Call atau teleponan dengan yang tersayang, kita bisa
melanjutkan hal lain. Membaca buku, melanjutkan drama korea yang tertunda,
menyelesaikan rewatch anime One Piece dari episode 1, atau apapun. Hal yang
pastinya tidak bisa kita lakukan saat mudik biasa. Kebebasan ini akan memberi sedikit sensasi yang berbeda dari lebaran biasanya.
Menghindari
Pertanyaan Sakti
“Kapan
Menikah?”, “Kapan Wisuda?”, “Kapan Punya Anak?” atau pertanyaan sejenis saya
pastikan akan selalu muncul. Apalagi saat silaturahmi dengan keluarga besar.
Tentu saja dengan mudik digital ini, intensitas pertanyaan sakti ini tidak akan
sebanyak mudik biasa. Sehingga kita bisa menikmati hidup kita dengan damai dan
santai. Ya walaupun itu tidak mengubah fakta kalau anda jomblo, atau anda masih
jadi mahasiswa akhri membiarkan skripsi anda.
Mencegah Penyebaran Virus
Ini yang paling
penting. Dengan mudik digital ini, kita dapat turut serta dalam mencegah
penyebaran virus. Apalagi virus ini tetap menempel walau di tubuh kita yang
sehat. Bukankah, mencegah keburukan menimpa seseorang berarti kebaikan? Atau
mungkin malah itu Jihad sesungguhnya daripada yang kelompok yang suka meledakkan
bom itu?
Selain itu, anda juga tidak perlu repot-repot
karantina mandiri selama dua minggu. Saat karantina mandiri, tentu anda tidak
dapat bertemu atau bahkan menyentuh siapapun. Kalaupun ngotot ingin bertemu, maka
anda harus mematuhi Pyhsical Distancing atau jaga jarak itu. Bukannya sama
saja hal ini dengan kita video call? Dan tentu saja mematuhi protocol agar
mencegah penyebaran itu lebih ribet.
Mudik digital memang bukan sesuatu yang kita
inginkan. Atau mungkin seluruh umat islam secara umum. Pun kita tetap bisa
mudik seperti biasa dengan adanya pelonggaran kebijakan PSBB ataupun persiapan ‘New
Normal’ di beberapa kota. Kembali lagi ke kita semua, apakah kita ingin mencegah
keburukan menimpa orang yang kita sayangi? Mohon maaf semuanya, saat ini kita
mudik digital dulu ya. Begitu.
0