Suryadi Haryanto
09 May 2020 at 09:12


1. Menyelamatkan Masa Depan Anak

Bukan hanya buku yang merupakan jendela dunia, tetapi Anak juga dapat sebagai jendela dunia karena kehidupan tidak akan pernah eksis tanpa keberadaan manusia dan manusia selalu melalui tahapan kehidupan yang penting di masing-masing transisinya dimulai dari fase Anak.

Transisi dari masa kanak-kanak menjadi Remaja sangat krusial. Ketiadaan aktivitas produktif dan aktivitas pendidikan bisa menjadi suatu yang menakutkan jika kita rasa-rasakan.

Mengapa menakutkan? Ya, coba bayangkan jika ada virus menular yang membatasi anak untuk sekolah, membatasi anak untuk bersosialisasi ke teman sebayanya, membatasi anak untuk bermain dan bergerak (motorik) untuk perkembangan jiwanya. Bagaimana pribadinya dapat  berkembang di masa kanak-kanaknya  dalam kondisi demikian? Hal ini juga akan mempengaruhi kemajuan dearah kita nantinya.

Jika virus ini bukan SEJAK DINI kita hentikan melalui KEDISIPLINAN DIRI, kapan lagi kita sebagai orang dewasa memberikan pemahaman kepada orang sekitar termasuk anak-anak? Apakah kita hanya peduli dengan kenyamanan diri kita sendiri? Seperti tidak menghiraukan self quarantine,  berkumpul-kumpul tanpa masker, batuk dan bersin tidak sesuai anjuran kesehatan, dan masih banyak lagi. Akankah kita peduli kepada anak-anak disekitar kita yang nantinya akan menjadi generasi muda penerus bangsa? Generasi yang akan menjadi ‘jendela dunia’ dan membawa kita kepada peradaban yang lebih maju.

‘Jendela dunia’ yang akan menerangi ketidaktahuan manusia-manusia sebelumnya. Jadi, tidakkah kita mau “Menyelamatkan masa depan anak” untuk kelanjutan dunia? Ataukah kita lebih menginginkan kiamat dan tidak akan ada lagi keturunan yang melangsungkan kehidupan manusia dimuka bumi?

2. Menyelamatkan Ibu, Bapak dan Keluarga Kita

Sebagai seseorang yang tinggal satu rumah dengan orang yang lebih Tua usianya (Lansia), sederhananya cukup menghindari kontak fisik dengan mereka (tidak menyentuh mereka). Tidak berdekatan dengan mereka adalah suatu strategi melindungi Ibu, Bapak, dan Keluarga kita yang sudah Tua, karena antibodi dan kesehatannya yang berbeda dengan kita yang lebih muda dalam melawan masa pandemi ini.

Menurut pakar dr. Meva Nareaz tentang alasan Lansia lebih rentan tertular virus Corona ini, bahwa “Seiring pertambahan usia, tubuh akan mengalami berbagai penurunan akibat proses penuaan, mulai dari menurunnya produksi pigmen warna rambut, produksi hormon, kekenyalan kulit, massa otot, kepadatan tulang, kekuatan gigi, hingga fungsi organ-organ tubuh.”

“Sistem imun sebagai pelindung tubuh pun tidak bekerja sekuat ketika masih muda. Inilah alasan mengapa orang lanjut usia (lansia) rentan terserang berbagai penyakit,” tulisnya dalam Alodokter.com

Lalu di media yang lain pendapat dokter Anandika Pawitri menyatakan lansia juga berisiko tinggi mengalami gejala parah dua kali lipat jika tertular oleh Corona itu.

“Selain itu, tak sedikit lansia yang memiliki penyakit kronis, seperti asma, diabetes, penyakit jantung, atau kanker. Hal tersebut juga dapat meningkatkan risiko dua kali lipat bagi lansia terinfeksi virus corona,” tambah dr. Anandika Pawitri di sehatq.com

3. Mengikis Mikroba Virus untuk Skenario Tercepat

“Liat nggak, jauh banget bedanya ketika kita benar-benar Social Distancing, sama ketika kita santai aja gitu. Dari video ini dengan simulasi matematika, perhitungan matematika kita tahu sekarang, betapa pentingnya Social Distancing dan ketika kita tidak melakukan Social Distancing, ketika kita semena-mena, hasilnya bisa separah itu guys.”, ucap Youtuber Nihongo Mantappu dalam videonya.

Skenario 1 (Kurva 1) : Tidak ada kebijakan signifikan dan tegas dalam mengurangi interaksi antarmanusia.

Skenario 2 (Kurva 2) : Kebijakan sudah ada namun kurang tegas dan kurang strategis (masyarakat tidak disiplin) mengimplementasikan Physical distancing.

Skenario 3 (Kurva 3) : Diberlakukan kebijakan yang tegas dan strategis dalam mengurangi interaksi antarmanusia, masyarakat disiplin mengimplementasikan Physical Distancing.

“Kurva ini menunjukkan pola terjadinya suatu wabah penyakit. Sumbu X itu menunjukkan waktu atau durasi terjadinya suatu wabah. Sedangkan sumbu Y itu menunjukkan jumlah kasusnya.”

“Nah kurva 1 itu menunjukkan jumlah wabah yang rapid (cepat banget), sehingga banyak orang yang sakit dalam waktu singkat,”

“Terus ada kurva 2, kurva ini menunjukkan perkembangan wabah yang lambat. Jumlah orang yang sakit itu lebih tersebar dalam periode waktu yang lebih lama,”

“Loh, yang pertama itu kan lebih cepat kena, lebih cepat selesai? Tunggu dulu!. Ada hal yang menarik yang harus kita perhatikan dari kedua kurva ini. Yaitu sebenarnya jumlah orang yang sakit, di kurva 1 dan kurva 2 itu sama. Lah terus bedanya apa dong?”

“Nah disini ada satu garis yang harus kita perhatikan baik-baik, garis apa itu?”

“Jadi satu garis ini menunjukkan kapasitas fasilitas kesehatan kita, yaitu jumlah rumah sakit, jumlah tempat tidur, jumlah dokter, jumlah perawat, jumlah alat kesehatan, dan lainnya.”

“Jadi sekarang kita bayangkan kalau kejadiannya di kurva 1, banyak orang sakit dalam waktu yang singkat, kita bisa lihat kalau ada bagian kurva yang terletak di atas garis itu kan? Artinya ada banyak orang yang positif yang nggak bisa diurus di Rumah Sakit atau yang nggak bisa dapat perawatan khusus, karena terbatasnya (fasilitas) medis itu.”

“Akibatnya apa? Pertama, Tenaga medis kita kewalahan mengurusi mereka semua, yang kedua pasti ada banyak pasien, yang nggak dapat penanganan, sehingga dapat menyebabkan banyak orang yang meninggal.”

“Sebaliknya di kurva 2, meskipun penyebarannya lambat ya, meskipun selesainya lebih lama ya, tetapi semua pasien yang positif bisa diurus dengan baik sehingga jumlah pasien yang meningga bisa lebih sedikit dibandingkan kurva 1.”

 4. Menghindari Kontaminasi Makanan yang Bervirus

Corona Virus Disease Tahun 2019 (COVID-19) adalah mikroba virus yang penularannya tidak diragukan lagi. Munculnya angka yang berbahaya terdapat 6.000 kematian dalam dua minggu setelah kasus pertama disebuah daerah yaitu Ekuador. Dan 40.000 kasus baru dalam 1 hari di sebuah Negara yaitu United States. Menginstropeksi kita untuk ikut serta berperan dalam penanggulangan wabah bencana Ujian Covid-19 ini. Dengan segala usaha dan disiplin.

Salah satu hal lainnya yang membuat  virus tidak menyerang manusia adalah saat orang-orang dengan kesadaran tinggi melindungi diri mereka dengan APD berupa masker. Namun terdapat  1 titik kosong (GAP) yang perlu diperhatikam meskipun kita sudah melindungi diri melalui penggunaan APD berupa masker, yakni kebersihan   makan dan minum. Makanan dan minuman yang baik perlulah juga dipilah-pilih dan disajikan dalam keadaan higenis. Kepedulian terhadap kebersihan dalam penyajian makanan dan minuman dapat menghindari ketidaksengajaan terkontaminasinya makananan dari virus yang sedang merebak.

Maka untuk itu kita sebaiknya berhati-hati dan lebih higines lagi dalam menghidangkan makanan yang kita sajikan. Baik untuk diri kita sendiri, keluarga, maupun untuk penjualan kepada orang lain.

REFERENSI:

https://www.reuters.com/article/us-china-health-ecuador/ecuador-confirms-its-first-case-of-new-coronavirus-idUSKBN20N0S5

https://en.wikipedia.org/wiki/2020_coronavirus_pandemic_in_Ecuador

https://news.detik.com/berita/d-4986429/5-fakta-corona-di-ekuador-yang-sempat-laporkan-6000-kematian

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52364511

https://www.alodokter.com/alasan-mengapa-lansia-lebih-rentan-terhadap-virus-corona

https://www.sehatq.com/artikel/penyebab-lansia-rentan-terhadap-virus-corona-dan-cara-melindunginya

https://gisanddata.maps.arcgis.com/apps/opsdashboard/index.html#/bda7594740fd40299423467b48e9ecf6

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52342840

0