Siti Resa Mutoharoh
26 Aug 2020 at 15:46


Hoaks atau berita bohong menjadi salah satu musuh nyata Indonesia saat ini. Meskipun bumi pertiwi ini telah merdeka dari penjajah sejak tahun 1945 silam, namun yang menjadi masalah besar Indonesia saat ini adalah gempuran hoaks yang justru mengancam kesatuan dan persatuan. Terlebih, disaat penggunaan media sosial kian masif, hoaks pun semakin membabi buta dan sulit untuk dikendalikan.

Di era sekarang, pengguna media sosial tidak perlu bersusah payah mencari informasi lantaran informasi itu sendiri hadir bergerombol melalui sebuah teknologi (baca: gawai) yang kita genggam setiap saat. Beragam informasi berdatangan yang sedikitnya akan mempengaruhi cara berpikir kita.  Mempengaruhi dalam mengambil sebuah keputusan yang sedang kita hadapi. Dan mempengaruhi cara pandang kita terhadap dunia.

Tak bisa dipungkiri, kehadiran media sosial tentu bisa menjadi jembatan kita untuk melihat dunia hanya dalam genggaman. Namun perlu diwaspadai juga, hadirnya media sosial malah menjadi pelancar kelompok yang tidak bertanggung jawab dalam menyebarkan hoaks yang tentu tidak bisa dipertanggung jawabkan pula kebenarannya. Dan menjerumuskan pada permusuhan, perpecahan bahkan menghambat ''kemerdekaan'' Indonesia itu sendiri.

Pasalnya tak sedikit masyarakat Indonesia khususnya mohon maaf yang secara status sosial berada di kalangan menengah ke bawah masih minim literasi media. Atau bahkan saat ini yang kerap kali terjadi adalah orang-orang yang dianggap cakap bermedia sosial pun malah terjerat hoaks atau tertipu dengan narasi-narasi yang tak tahu kebenarannya dan asal muasalnya.

Semisal belum lama ini banyak pemberitaan terkait adanya pejabat, influencer, publik figur yang memproduksi hoaks terkait virus corona lalu disebar luaskan di media sosial. Bukan hanya saja membahayakan di pembuat hoaks lantaran akan dijerat dengan UU ITE, namun tentu juga membahayakan orang-orang yang membaca informasi yang disampaikan oleh si pembuat informasi palsu tersebut.

Terlebih melihat fenomena hari ini, orang akan mudah termakan hoaks jika informasi yang didapatkannya seolah mengafirmasi keyakinannya. Tak perlu cek dan ricek, maka akan langsung disebarluaskan meskipun bersumber anonimitas.  Sehingga tak jarang pula, usai disebarluaskan di berbagai platform media sosial maka terciptalah kegaduhan di negeri ini. Ada yang sampai saling cela, saling sindir dan beragam konflik lainnya disebabkan hoaks.

Lagi dan lagi penggunaan media sosial bergantung pada siempunya. Bisa menjadi pemicu konflik atau menjadi media perdamaian.

Kemudian sampai kapan Indonesia akan dijajah oleh hoaks? Tentunya kita mesti sama-sama sadar bahwa hoaks harus diperangi   secara bersama-sama. Artinya, hoaks harus ditangkal oleh semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Intinya, oleh semua pihak yang menggunakan media sosial.

Adapun cara yang bisa kita lakukan dalam memerangi hoaks adalah cek dan ricek. Cek dan ricek merupakan modal utama ketika kita mendapatkan informasi dari siapapun, sekalipun dari orang yang sangat kita percaya. Siapa pembuat beritanya, apa isi beritanya adalah kalimat yang harus selalu kita tanyakan pada diri sendiri ketika mendapat informasi. Jika kita tidak mengetahui sumber utama informasi tersebut dan isinya pun tidak jelas atau malah cenderung menyudutkan dan menghina kelompok tertentu (ujaran kebencian) maka alangkah baiknya kita langsung menghapusnya dan tidak menyebarluaskannya lagi.

Kedua, penuhilah media sosial dengan narasi-narasi baik atau perdamaian namun hindari informasi yang bersifat spam atau tidak berguna. Artinya, kita harus 'menyerang' narasi-narasi sentimen dan memicu konflik dengan narasi yang mendamaikan. Jangan sampai narasi-narasi perdamaian kalah dengan narasi yang akan melahirkan perpecahan dan kegaduhan di media sosial. Dan perlu diingat pula, narasi perdamaian pun mesti memiliki sumber yang kredibel.

Kemudian, seperti dilansir dari laman resmi Jalan Damai, apabila ditemukan konten-konten yang berisi hoaks dan mengancam keberagaman, segera laporkan ke pihak berwenang di kanal yang dikelola oleh Kominfo, Polisi siber, ataupun BNPT. Lakukan screenshoot dan kirim ke aduankonten.id, atau bisa juga melalui laman https://trustpositif.kominfo.go.id/ dan http://www.polisionline.net/p/form-pengaduan.html. Selain itu, laporan via surel juga diterima melalui aduankonten@bnpt.go.id dan aduankonten@mail.kominfo.go.id

Itulah beberapa hal yang perlu kita lakukan agar bisa memerdekaan Indonesia dari serangan hoaks. Jika bukan dimulai dari diri sendiri, akan sulit rasanya hoaks punah di bumi pertiwi. Karena bukankah Indonesia merdeka dari negeri penjajah juga merupakan hasil dari kerjasama? Maka mari bekerja samalah untuk perangi hoaks. Bekerja samalah untuk Indonesia yang tentram dan damai.

0