raundoh tul jannah
29 Aug 2020 at 11:56


Kini, dunia digital termasuk sosial media ibaratkan rumah kedua oleh setiap pemilik aksesnya. Banyak interaksi yang terjadi di dalamnya, seperti literasi, bisnis, perniagaan, promosi hingga hal sederhada seperti mengirimkan dan membalas pesan kepada kolega atau orang terdekat termasuk dengan gebetan atau pacar.

Terkadang, unsur kedekatan menurunkan rasa kehati-hatian seseorang dalam membagikan berbagai hal maupun momen berharga melalui media digital. Entah itu konten narasi berupa pesan teks, gift, gambar, video hingga panggilan-panggilan bervideo. Padahal hal tersebut bisa saja menjadi bumerang dan bom waktu apabila kita tidak selektif ketika membagikan konten yang bersifat konsumsi pribadi atau publik. Misalnya saja ketika pacar atau kenalan memulai obrolan kemudian meminta mengirimkan gambar dengan unsur sexual.


Kenali Revenge Porn

Salah satu dampak yang tengah buming dan bisa saja terjadi ketika warganet tidak selektif dalam membagikan informasi pribadi adalah revenge porn. Revenge porn ialah suatu kegiatan menyebarkan konten seksual baik dalam bentuk foto maupun video tanpa seizin orang yang muncul di dalam foto dan video tersebut. Tujuannya bisa untuk balas dendam (revenge) atau menjelekkan orang tersebut. Beberapa contoh kasus yang terjadi adalah remaja yang melakukan sexting (chating mengandung unsur porno atau seksual) dengan pacarnya, kemudian setelah putus salah satu pihak sakit hati dan menyebarluaskan foto berbau seks mantan pacarnya tersebut.

Kejadian tersebut, banyak menimpa remaja yang tengah diombang-ambing perjalanan menemukan jati dirinya. Sehingga banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari kejadian tersebut. Berdasarkan survey yang pernah dilakukan oleh Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2018 menunjukkan bahwa pengguna internet terbanyak berusia 15-19 tahun, kemudian usia 20-24. Masih dari sumber data yang sama diketahui bahwa, 91% dari mereka berusia 16-24 tahun. Maka tidak heran remaa menjadi usia yang rentan terhadap kejahatan seksual di media sosial.

Seperti:

  1. Depresi dan cemas. Hal tersebut terjadi akibat shock atau ketidakpercayaan seseorang terhadap kondisi yang tengah dialami saat itu. Komentar pedas dan kasar juga dapat menjadikan tekanan tersebut bertambah besar. Hal tersebut akan sangat meusak kesehatan mental dari korban.
  2. Hilangnya rasa percaya diri terhadap diri sendiri

Ketika banyak tekanan hadir dan merasa apa yang dia lakukan adalah negatif yang membuatnya sangat tidak percaya kepada dirinya sendiri. Bahayanya adalah, rasa ketidak percayaan ini bisa saja memantik korban melakukan kegiatan beresiko seperti mengonsumsi alkohol atau narkoba.

     3. Rentan terhadap pelecehan seksual

Seseorang yang sudah pernah mendapatkan pelecehan biasanya akan rentan mendapatkan hal yang sama. Karena membagikan konten pornografi di mesia sosial membuat seseorang kana mudah diingat dan dikenali. Hal ini bisa dimanfaatkan seseorang yang sengaja ingin menjahilinya lagi. Bisa saja membuat seseorang membenci lawan jenisnya.

    4. Rekam jejak digital yang tidak dapat dihapus

Hal yang menyedihkan ketika rekam jejak digital tidak dapat dihapus dengan mudah. Semua akan terangkum di dunia digital yang tentu akan banyak merugikan kehidupan. Seperti yang dibahas pada artikel sebelumya.

    5. Bunuh diri

Puncaknya bisa saja korban melakukan bunuh diri karena depresi, tidak percaya diri, tidak kuat menahan omongan, hingga kelurga yang kurang mendukung. Selain itu, biasanya pelporan kekerasan seksual kurang mendapatkan response yang baik. Hal  tersebut pun menjadi bagian faktor yang perlu diperhatikan.

Sungguh sangat disayangkan apabila hal tersebut terus terjadi di kalangan anak muda, yang seharusnya bijak bermedia juga bijak berasmara. Membedakan rasa, logika dan hawa nafsu ketika bunga-bunga cinta bermekaran memang sulit. Namun, alangkah baiknya mencegah daripada mengobati, dengan cara yang lebih bijak ketika mengirimkan informasi pribadi atau data yang wajib dilindungi karena hal tersebut akan mempengaruhi rekam jejak digital.



Oleh: Raundoh Tul Jannah (R.T.J.)

0