Onriza Putra
20 May 2020 at 22:42


Awal abad 20, kesadaran senasib dan sepenanggungan semakin menguat hingga menumbuhkan kesadaran nasional. Kesadaran ini ditandai dengan semakin mengeliatnya aktivitas-aktivitas pergerakan anti pemerintahan kolonial dan berdirinya partai-partai politik. Salah satu yang menjadi sejarah kita adalah berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.


Dalam artikel Asal Usul Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Hendri F Isnaeni- Historia), diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional (saat itu istilahnya Kebangunan Nasional), merupakan inisiatif Soekarno. Hal ini dilakukan karena saat itu repuplik yang usianya masih sangat muda menghadapi krisis politik yang mengarah kepada perpecahan. Oleh karenanya, berdirinya Boedi Utomo sengaja dipilih untuk dijadikan sebagai simbol kebangkitan dan persatuan.


Krisis politik yang mengarah kepada perpecahan tersebut disebabkan oleh berbagai dimanika yang terjadi. Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dibayangi-bayangi oleh agresi militer Belanda yang membonceng Sekutu. Belanda juga mendorong negara-negara boneka (hasil Perjanjian Renville memecah daerah-daerah menjadi republik-republik kecil) untuk melawan legitimasi Republik Indonesia. Selain itu, Indonesia juga dibayangi oleh oposisi yang ingin merebut pemerintahan Soekarno-Hatta. Dalam keadaan genting itulah dimunculkan Hari Kebangkitan Nasional yang pertama kali tahun 1948. 


Sebagai sebuah negara, saat ini Indonesia telah berusia 74 tahun. Sebuah usia yang sudah tua bagi umur seorang manusia, namun masih tergolong muda bagi sebuah negara. Indonesia telah mengalami periode-periode penting dalam kenegaraan dan pernah dihantam gelombang krisis baik krisis politik maupun ekonomi. Krisis-krisis tersebut tidak hanya membuat Indonesia semakin kuat, tetapi juga semakin menjadikan kita kebal terhadap krisis. Dari krisis politik 1950an, 1965 hingga 1998, Indonesia kembali menemukan momentum untuk terus bangkit sebagai sebuah negara.


Tahun 2020 menurut hemat penulis termasuk tahun yang berat bagi Indonesia. Selain menghadapi keganasan Covid-19, kita juga menghadapi krisis ketidaksalingpercayaan. Ditengah usaha-usaha banyak pihak untuk bergotongroyong melawan Covid-19, kita justru dikecewakan dengan banyaknya masyarakat yang tidak sejalan dengan usaha-usaha itu. Mulai dari penyebaran informasi hoax, tidak menindahkan himbauan pemerintah hingga memunculkan tagar Indonesia Menyerah. 


Kita menyaksikan pemerintah telah berupaya maksimal mengangani Covid-19, walaupun harus kita akui juga banyak kebijakan yang harus kita kritisi. Namun yang kita sesalkan adalah munculnya bibit-bibit ketidakpercayaan, yang pada taraf yang lebih tinggi, bermuara pada kebencian. Kekhawatiran ini diperlihatkan dengan adanya ketidaksinkronan kebijakan daerah dan pusat (akibat politik), kisruh pendistribusian bantuan sosial, kurangnya kesadaran masyarakat dan berujung pada gerakan Indonesia Menyerah. Padahal yang kita sangat butuhkan saat ini adalah kerjasama dan membangunan solidaritas.


Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, kita semestinya kembali menyelami perjuangan-perjuangan pendiri bangsa berabad lalu. Hari Kebangkitan Nasional disimbolkan dengan menguatnya kerja sama anak bangsa untuk mencapai Indonesia yang merdeka. Boedi Utomo (1908) Sarekat Dagang Islam (1906), Soempah Pemoeda (1928) muncul tidak hanya sebagai kejadian biasa, tapi didorong oleh kesadaran kebersamaan, senasib dan sepenanggungan dan mengenyampingkan semangat kedaerahan. 


Dorongan kebersamaan, merasa senasib sepenanggungan dan bergotong royong ialah energi yang kita butuhkan saat ini, harus kita punyai dan harus kita tularkan secara masif, dalam rangka terpuruknya kebersamaan ditengah pandemi. Semangat Hari Kebangkitan Nasional harus kita serap dan dijadikan pegangan bahwa Indonesia pasti mampu melewati krisis. Kita berharap, setelah krisis ini berakhir, Indonesia kembali bangkit dan semakin kuat.


Oleh: Onriza Putra - Duta Damai Regional Sumatera Barat


0