Gandeng Humas Polres Malang Kota, Duta Damai BNPT Bentuk Duta Damai Sekolah

Perilaku-perilaku di media sosial yang dapat terjerat hukum menurut Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) antara lain tindak kesusilaan, perjudian, penghinaan, dan pemerasan melalui media sosial; penyebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian; hingga perilaku pengancaman. Tidak hanya itu, pasal 30 UU ITE juga mengecam perbuatan akses ilegal dan pencurian data elektronik, serta peretas sistem data elektronik, dengan ancaman hukuman pidana dan denda yang variatif. Hal tersebut disampaikan oleh Sugeng Riyadi selaku perwakilan Humas Polres Malang Kota, kepada 35 peserta Workshop Duta Damai Sekolah di Aula Sanika Satyawada Polres Malang Kota. Acara berkonsep pelatihan yang mengusung tema Gerakan Sekolah Anti Radikalisme 2.0 tersebut, diinisasi oleh Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur, bekerjasama dengan Humas Polres Malang Kota.

Peserta Workshop merupakan perwakilan dari beberapa sekolah unggulan yang ada di Kota Malang. Pihak penyelenggara, Abdik Maulana, mengatakan bahwa acara ini merupakan gelaran kedua kalinya, setelah gelaran pertama yang melahirkan 10 Duta Damai Sekolah hingga saat ini. Secara umum Duta Damai Sekolah akan membantu kinerja Duta Damai Dunia Maya BNPT dalam menangkal radikalisme, namun lebih spesifik lagi dengan sasaran pelajar sederajat. Pelatihan Duta Damai Sekolah juga lebih ditekankan pada pengarahan kemampuan/skill yang dimiliki oleh pelajar agar dimanfaatkan untuk menebar perdamaian, seperti kemampuan membuat video pendek, menulis berita, menulis opini, hingga kemampuan membuat poster dan meme. Kemampuan yang dikembangkan tersebut sama seperti kemampuan yang dimiliki oleh Duta Damai Dunia Maya BNPT dalam tugasnya menangkal radikalisme. Harapannya, pesebaran paham radikalisme di media sosial dapat diminimalisir sedini mungkin.

Tidak hanya diberikan pelatihan skill untuk menangkal radikalisme di media sosial, sebelumnya peserta Workshop juga telah dibekali tentang pentingnya nasionalisme untuk menangkal radikalisme oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, yang diwakili oleh  Dr.Hj.Hesti  Armiwulan, S.H., M.Hum. Menurut Hesti, menangkal radikalisme tidak harus selalu dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan ciri-ciri radikalisme. Sebaliknya, lanjut Hesti, narasi-narasi nasionalisme di kalangan anak muda lebih tepat untuk dikembangkan, tanpa menyebut radikalisme itu sendiri. Baginya, dengan semakin menguatnya nasionalisme di kalangan pelajar akan secara tidak langsung menangkal radikalisme itu sendiri untuk mempengaruhi pikiran para pelajar.

“Nasionalisme secara sederhana dapat dilihat dari sikap kita saat menyanyikan Indonesia Raya di berbagai perhelatan. Ada yang main hp atau bahkan hanya sekedar formalitas membuka mulut. Hal inilah yang seharusnya kita pahami, agar nasionalisme bisa tercermin dari sikap yang sederhana” ujar Hesti dalam paparannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *