Belajar Toleransi Dari Masyarakat Cigugur Kuningan

Oleh: Bennartho Denys – Duta Damai Dunia Maya Regional Yogyakarta

Toleransi bukan hanya sebuah kata. Lebih dari itu toleransi merupakan suatu perwujudan dari adanya suatu kesadaran manusia terhadap pluralitas yang niscaya ada.

Indonesia dengan 1.340 suku bangsa, 742 bahasa daerah, dan 187 kepercayaan lokal yang tersebar di 17.504 pulau dari Sabang sampai Merauke (Badan Pusat Statistik, 2010), bukan hanya sebuah statistik belaka. Hal tersebut merupakan bukti kekayaan budaya kita yang sangat beragam dan dapat bersatu dalam tonggak NKRI.

Akan tetapi mengapa kasus intoleransi beragama terus mengalami peningkatan setiap tahunnya? Menurut data Komnas HAM terdapat peningkatan signifikan angka kasus intoleransi beragama di Indonesia dan puncaknya terjadi pada tahun 2018 lalu yaitu mencapai 108 kasus pelanggaran kebebasan beragama.

Sebuah anomali terjadi pada Bangsa ini yang memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” pada pita yang dicengkeram oleh sang “Garuda Pancasila” yang seharusnya toleransi merupakan budaya luhur Bangsa Indonesia.

Kearifan Lokal Nusantara juga dapat membuktikan budaya toleransi sebagai jati diri Bangsa ini sejak lama. Salah satu contohnya pada Masyarakat Cigugur Kuningan yang terkenal dengan pluralitas keberagamaannya. Masyarakat yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan keyakinan seperti Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan bahkan Sunda Wiwitan dapat hidup berdampingan secara rukun dan damai. Hal ini tidak terlepas dari ajaran atau leluhur Cigugur yang mengajarkan tentang Pikukuh Tilu sebagai ajaran kesejatian manusia yang sekaligus mengandung makna toleransi sebagai sikap hidup dalam menghadapi segala perbedaan yang ada.

Ajaran Pikukuh Tilu merupakan salah satu kearifan lokal Nusantara yang mengajarkan tentang nilai-nilai toleransi yang perlu kita lestarikan dengan cara mulai kembali membudayakan kehidupan yang tenggang rasa, saling pemahaman dan pengertian antara satu sama lain, melihat perbedaan sebagai suatu yang indah sehingga dapat menciptakan suatu persatuan Bangsa ini.

Jangan sampai kekayaan kearifan lokal Bangsa ini tenggelam begitu saja atau hanya menjadi sekedar teks sejarah yang tidak kembali dihidupi oleh kita sekalian. Sebagai bentuk kecintaan kita terhadap Bangsa Indonesia, kita perlu untuk melestarikan budaya Bangsa ini dengan menyatakannya dalam sikap dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dari hal yang kecil seperti berhenti untuk menyebarkan berita-berita hoax atau memberikan ujaran kebencian kepada kelompok warga tertentu yang dapat berakibat menimbulkan konflik persaudaraan di antara kita sendiri.

Seharusnya sikap toleransi harus diutamakan dalam suatu keberagaman masyarakat daripada intoleransi. Sebagai umat beragama seharusnya Bangsa Indonesia dapat saling membangun pengertian dan pemahaman satu sama lain karena sejatinya tidak ada satupun agama yang mengajarkan keburukan.

Dikutip dari: dutadamaiyogyakarta.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *