Berpikir Positif Dan Toleran Saat Puasa: Pengalaman Seorang Non-Muslim Menghadapi Bulan Ramadan

Oleh: Erick Witono Putro – Duta Damai Dunia Maya Regional Kalimantan Selatan

Puasa, dalam kamus besar Bahasa Indonesia memiliki arti menghindari makan, minum dan sebagainya dengan sengaja atau salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Puasa diadakan setiap satu bulan penuh dan hampir diadakan dengan ramai dengan tanda-tanda yang cukup unik dengan status di sosial media yang mulai bermunculan konten “mohon maaf lahir batin” atau “resolusi Ramadhan” dan sejenisnya. Puasa tidak hanya terbatas pada muslim tetapi pada non muslim walaupun berbeda pantangannya dan cara pelaksanaanya.

Seperti umat Kristen dan Katolik pada saat paskah dengan pantangan yang agak berbeda dengan umat muslim baik dari waktu dan aturan berpuasanya (https://tuhanyesus.org/cara-puasa-orang-kristen) . Sedangkan untuk umat Buddhis tidak diwajibkan setiap hari tetapi diadakan pada hari dan waktu tertentu (https://dhammacitta.org/artikel/willy-yandi wijaya/puasa-dalam-agama-buddha.html) dan umat hindu dalam ajarannya yangmengajarkan tentang puasa (https://paduarsana.com/2012/08/01/puasa-dalam-agama-hindu/).

Baru saja pada tanggal 17 April 2019, kita mengadakan pemilihan Presiden beserta jajarannya dan banyak terjadi konflik ketidakpercayaan terhadap data yang disajikan bahkan tersebar di social media seperti Whatssapp, Instagram, Twitter, Facebook bahkan dengan televisi yang menunjukan hasil yang berbeda sehingga mengakibatkan konflik secara tidak langsung dan tidak separah tragedi yang pernah terjadi di Indonesia saat pelaksanaan pemilihan umum.

Akhirnya tanggal 5 Mei 2019 menuju awal bulan yang paling ditunggu umat muslim yaitu “Bulan Puasa”. Setiap tahun saya memiliki pengalaman puasa yang berbeda sebagai non muslim yang menghormati “mereka” yang berpuasa seperti tidak boleh marah ataupun berkata kasar merupakan tantangan yang cukup berat bahkan saya sendiri harus menahan hal yang tidak boleh dilakukan saat puasa. Ketika saya harus berhadapan dengan seseorang, saya harus memiliki dua pemikiran ini yaitu positif dan toleran.

Pertanyaannya kenapa harus dua aspek ini ? mungkin jika kita berpikir terlalu banyak aspek untuk dilaksanakan serta memikirkan bagaimana cara menghadapi umat muslim yang sedang berpuasa. Positif, dalam artian disini adalah ketika ada teman anda yang marah atau berbuat jahat, ingatkan mereka untuk merenungkan akibat ketika mereka marah dan sikap toleran yakni ketika kawan kita tidak dapat ditegur maka sikap kita tetap positif. Setiap tahun dalam satu bulan di Indonesia selalu ada kegiatan ini, tetapi tahukah anda tidak hanya umat muslim yang melakukan puasa ini tetapi umat agama yang lain juga melakukan puasa.

Jika ada teman anda yang non muslim yang sedang berpuasa apakah anda sebagai umat muslim akan menghormati mereka seperti kita menghormati sesama? Mari renungkan kembali apakah kita sudah benar dalam melakukan puasa kita dan kita yang non muslim harus dapat mempunyai sikap toleransi saat kawan atau kerabat kita menjalankan puasa? Kita harus renungkan itu semua ke dalam diri kita.

Akhir kata saya ucapkan selamat berpuasa dan ingat! Jaga sikap kita saat berpuasa.

Dikutip dari: dutadamaikalimantanselatan.id | Ilustrator: Pusat Media Damai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *