Narasi Jihad dalam Gejala Tantrum dan Narsisme Politik

Oleh: Siti Heni Rohamna – Duta Damai Dunia Maya Regional Banten

Makna jihad menjadi sangat sempit apabila selalu diidentikkan dengan perang dan mengangkat senjata. Bahkan untuk kasus di Indonesia, istilah jihad dan perang acapkali diteriakkan sebagai bagian dari perlawanan teatrikal terhadap hasil pemilihan umum melalui narasi kedaulatan rakyat hingga people power yang bisa menyulut konflik horisontal di tengah masyarakat.

Penyempitan makna jihad seperti itu merupakan dampak dari menguatnya politik identitas yang akhir-akhir ini muncul dalam ranah publik. Padahal, jihad sebenarnya –mengutip pendapat Prof. Quraish Shihab—merupakan segala bentuk perbuatan dengan sungguh-sungguh yang dilakukan untuk kebaikan. Selama perbuatan itu sesuai dengan norma-norma budaya dan agama, itulah jihad, yaitu menggunakan daya untuk kebaikan.

Dalam kasus lain, penggunaan kata “jihad” berkonotasi negatif dikarenakan banyaknya penceramah yang belum memahami pesan-pesan universal agama menggunakan dalam konteks yang serampangan. Di antara sekian banyak firman Tuhan tentang menghormati pilihan dan menjaga hak orang lain, kenapa yang selalu ditampilkan ke publik tentang ayat-ayat perang? Padahal jika dipersentasekan, ayat-ayat perang yang turun di Makkah jauh lebih sedikit ketimbang ayat-ayat yang diturunkan di Madinah saat Nabi Muhammad Saw. menjalin kesepakatan dengan aliran, suku dan agama yang berbeda-beda.

Dampak dari penyempitan makna jihad itulah yang kemudian menyebabkan seorang pemuda dengan lantang mengaku ingin memenggal kepala Presiden Joko Widodo. Mungkin dalam benaknya adalah bagian jihad. Namun, dalam sudut pandang apapun, pengakuan itu dianggap keterlaluan dan bisa mengancam stabilitas, ketentraman yang dicita-citakan negara dan agama.

Fenomena pilpres yang kemudian dikaitkan dengan perang, people power, kedaulataan rakyat bahkan jihad sekalipun bisa dianggap sebagai tantrum narsisme situasional. Dalam situasi ini, beberapa pihak yang merasa tidak dipenuhi keinginannya berlomba-lomba berteriak sekencang-kencangnya untuk membuat pihak lain mengalihkan perhatian dan memenuhi keinginannya.

Tantrum biasanya berkaitan dengan keinginan yang tidak terpenuhi. Kebiasaan tantrum memang acapkali ditunjukkan anak-anak kecil untuk menarik perhatian orang dewasa agar menuruti keinginannya. Namun, melihat kondisi Indonesia akhir-akhir ini yang ramai dan dipenuhi dengan caci maki, umpatan bahkan ancaman akibat kontestasi politik berkepanjangan, agaknya tidak salah jika banyak politisi negeri ini terjebak dalam situasi tantrum.

Pengalaman tantrum yang diidap politisi juga dibarengi dengan sikap terlalu cinta dirinya dan kelompoknya. Istilah yang digunakan Sigmund Freud dalam menggambarkan keadaan ini adalah narsisme. Freud mengambil tokoh Narcissus yang dikutuk sehingga mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tokoh Yunani yang terpengaruh rasa cinta terhadap dirinya itu singkat cerita menjulurkan tangannya ke dalam kolam hingga mengakibatkan dirinya tenggelam.

Gejala tantrum yang dibarengi narsisme berlebihan menemui titik kulminasinya manakala kontestasi politik berlangsung April lalu. Dalam sejarah demokrasi Indonesia, pemilihan umum yang baru saja digelar merupakan bangunan tak terpisahkan menyalurkan libido politik.

Ironisnya, isu yang digulirkan selama masa kampanye memberi dampak terhadap menguatnya politik identitas. Bagaimana isu anti-Islam, anteg-asing, pro-Tionghoa dan lain sebagainya membanjiri media sosial di Indonesia dibandikan dengan isu visi dan misi para calon.

Dalam realitas yang kompleks itu, pemerintah memiliki pekerjaan rumah cukup berat lantaran harus menyatukan kembali masyarakat yang terbelah oleh pemilihan umum 2019. Jihad sebagai salah satu menifestasi politik identitas harus dijauhkan dari masyarakat. Jihad harus dikembalikan dalam pemaknaan yang lebih luas sehingga tidak mudah dijadikan topeng untuk kepentingan politik identitas.

Caranya dengan memberikan ruang selebar-lebarnya terhadap pengkhutbah atau penceramah untuk menyampaikan pesan-pesan universal agama. Jadi, agama tidak melulu dipandang sebagai alat yang bersifat destruktif, namun agama merupakan suatu jalan guna menciptakan keteraturan berbangsa dan bernegara.

Andai pemerintah mampu menerapkan kebijakan itu dengan baik, maka gejala tantrum narsisme situasional para politisi akan mudah dijinakkan. Ibarat seorang anak kecil yang tantrum meminta mainan, orang tua dengan sadar tidak selalu menuruti keinginan anaknya demi kebaikan anak tersebut.

Dikutip dari: jalandamai.org | Ilustrasi: Pusat Media Damai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *